Movie review score
5

Love is a Pain in the Butt…no?

Baru-baru ini seorang teman mengajarkan saya hal baru tanpa sengaja.

Teman saya ini, sebut saja namanya Fili (nama disamarkan untuk privasi-hihihihi rasanya kaya lagi nulis berita kriminal ;D )

Dia seorang mahasiswi di Jakarta, dan sudah berbulan-bulan jatuh cinta pada seorang cowok di kampusnya. Ah, klise ya? But such things happen, right?

Nah, kebetulan karena kami berteman dekat, dia sering cerita soal sang pujaan hati ini-sebut saja namanya Didi (kaya sampo bocah itu, loh..)

Fili dan Didi bertemu di kelas sebuah mata kuliah, dan jrangjrengjrong…teman saya falling in love. Awalnya standar-cinta platonik tanpa adanya prospek cerah . Sekedar gregetan hepi kalo liat mukanya. Dengerin curhatnya juga jadi males karena teman saya bersikap malu-malu kucing dan bingung-bingung merpati. Akhirnya, setelah beberapa lama, dan semua teman-teman kompak mengomporinya untuk melakukan pendekatan, teman saya maju juga. Yang lucu, network cewek satu kampusnya pun ikutan kompak jadi mata2 gratisan-mereka rajin memberi laporan harian via sms atau lisan tentang Didi ada dimana, Didi lagi ngapain, Didi dulunya sekolah dimana, Didi lagi ada gosip ada…dan Didi-Didi lainnya.

Akhirnya, berkat jasa peminjaman catatan non resmi antarmahasiswa, Fili dan Didi sekarang berteman. Ternyata, mereka makin deket. Didi rajin membantu Fili belajar, dan mereka jadi makin intens SMSan, bahkan sampai telpon2an hingga larut malam. Itu pasti masa-masa paling membahagiakan bagi Fili, apalagi Didi sampai curhat-curhatan segala pada Fili. Lama-lama muncul beberapa sifat Didi yang menurut saya agak aneh untuk ukuran cowok. Didi terlalu sensitif dan ngambekan…celakanya Fili sahabat saya adalah gadis yang sensitif juga dan melankolis akut. Mood Fili sering dipengaruhi sikap Didi. Sikap Didi yang bisa tiba-tiba dingin sering membuat Fili bingung, feeling guilty dan uring-uringan seharian. Padahal nanti ternyata nggak ada apa-apa. Sia-sia stres sendiri. Tapi ya, biar gimana mereka tetap dekat.

Dari keseluruhan cerita Fili, kami semua udah still yakin kalo Didi emang punya rasa ama Fili, soalnya selain komunikasi yang udah intens banget, Didi sering bersikap hati-hati kalo lagi jalan sama temen cewek lain; dia bakal langsung menjelaskan ini-itu, seakan takut Fili cemburu.

Wah, tinggal tunggu tanggal main, nih…batin saya.

Eh, makdikipe…perkembangan yang terjadi selanjutnya justru di luar dugaan. Satu kali Didi ‘curhat’ ke Fili kalo dia lagi jatuh cinta dengan seorang gadis. Sebagai ‘sahabat’ yang baik, tentu saja Fifi pasrah dan iya-iya aja terhadap omongan Didi. Hati Fili hancur, dan dia menceritakan tragedi ini kepada dua orang sahabat terdekatnya di kampus, yang merupakan bagian dari ‘tim sukses’ Fili. Hanya dua orang tersebut.

Beberapa hari kemudian, Didi mendatangi Fili dengan amarah membara. Ia mendengar berita bahwa pujaan hatinya yang ia taksir diam-diam telah mengetahui perihal perasaan Didi lewat seorang teman. Dan ia menyalahkan Fili karena merasa hanya menceritakan ini pada Fili. Untuk beberapa waktu, Didi mendiamkan Fili dan marah padanya, meski Fili sudah meminta-minta maaf. Sampai sekarang tidak ada yang pernah tahu dari mana si gadis itu mendengar gosip tentang perasaan Didi.

Time heals, kata orang. Dan itu berlaku juga pada Didi dan Fili. Perlahan-lahan hubungan mereka membaik meski tidak seperti dulu. Fili masih mencintai Didi seperti yang sudah-sudah, meski ia sempat ‘ditembak’ oleh seorang cowok lain bernama Bobo (perlukah saya klarifikasikan kalo ini nama palsu juga?) yang ia kenal di gereja. Usia Bobo beberapa tahun lebih tua dari Fili, seorang arsitek yang sangat perhatian pada Fili (Bobo adalah tipe cowok yang masih mengirim hadiah boneka pada Fili sebagai permintaan maaf hanya karena ia merasa kurang mendengarkan Fili di telepon semalam). Saat mereka berpisah di bandara karena Bobo akan melanjutkan studinya ke luar negeri, ia menyatakan perasaannya itu. Fili menolak Bobo dengan halus, karena…karena apa lagi, coba? Ya, dia cinta Didi. Didi forever.

Satu kali, terjadi slek lagi antara Didi dan Fili. Sebenarnya ini lagu lama: Fili bercanda, tapi Didi terlalu sensitif dan menanggapinya serius (saya kenal Fili hampir sepuluh tahun-percayalah, dia orang yang sangat menjaga kata-katanya dan bisa bercanda pada tempatnya). Peristiwa kali ini menyentuh batas ketabahan Fili. Fili lelah, dan seperti biasa dia curhat pada Bobo lewat SMS dan email. Dan tebak apa yang dilakukan Bobo kemudian? Ia menelepon Fili dari luar negeri dan mencoba peruntungannya lagi. Di saat Fili sedang down karena Didi, ia menembak Fili untuk kedua kalinya. Fili bukannya jatuh cinta pada Bobo, ia jatuh iba. Ia paham betul rasanya mencintai seseorang tanpa balasan. Dan ia lelah terus mengharapkan Didi. Ia menerima Bobo.

Saya senang sekali ketika ia menceritakan ‘kabar gembira’ ini di sebuah kedai es krim. Akhirnya Fili mendapatkan seorang pria yang sempurna, yang nggak akan pernah nyakitin dia. Saya gembira, semua temannya gembira. Satu-satunya orang yang tidak tampak gembira ya cuma Fili itu sendiri. Dengan wajah beku yang aneh, ia memandang es krimnya dan membuang muka. Tidak ada antusiasme, tawa, bahkan senyum senang; boro-boro saya mau nodong minta traktir. Ya ampun apa yang salah sih dari Bobo? Mapan, dewasa, perhatian, pinter, seiman? Ibu mana yang nggak cengengesan hepi kalo melihat anak gadisnya pulang ke rumah menenteng cowok tipe begini? Memang tidak ada yang salah dari Bobo. Bobo benar-benar komoditas berkualitas tinggi di Pasar Perjodohan Nasional. Tapi…begitulah.

Setelah peristiwa itu saya tidak bertemu Fili untuk waktu yang lama, kami sama-sama disibukkan oleh project kampus dan ujian akhir semester. Satu malam yang suntuk, Fili SMS.

hay pinkpiggy…gw lg sedih nih...
ud lama y qta ga ktm..stlh final ktmuan yuk? pengen curhat byk..

hah? sdih kenapa?iyaya, ktmuan yuk stlh final kelar! ;D

wah panjang bgt ceritanya. gue ud putuss..

Saya terkesiap. Kehilangan pria se-perfect Bobo memang menjadi kerugian besar yang tak ternilai harganya.

Dengan sigap saya mengirimkan SMS penghiburan. Tapi SMS saya ternyata salah alamat. Fili tidak sedih sama sekali perihal urusannya dengan Bobo. Fili ternyata sedang sedih memikirkan dilema Didi. Yeah, the same old Didi. Didi yang sama dengan yang dulu. Apa sih bagusnya Didi? Didi lagi-Didi lagi. (saya mulai bersenandung: Didi..Didi…Didi sampoku. Setiap kumandi, dididi…)

Lah, mungkin saya yang emang nggak bisa ngerti. Saya belum pernah jatuh cinta serius sepanjang hidup saya yang dua puluh satu tahun ini. Saya nggak ngerti aja. Seorang Fili yang baik, pinter dan asik membuang percuma waktunya untuk memikirkan seorang pria yang lebih bete-an daripada saya kalo lagi PMS.

Tapi saya inget satu hal. Saya inget mata Fili. Saya inget bibir Fili. Saya inget pipi Fili. Saya inget muka Fili. Semua tampak begitu bersinar, bahagia dan cerah jika ia sedang menceritakan Didi. Fili bahagia. Tapi kan Bobo sempurna??? Nah, saya juga heran. Bobo punya segalanya di mata Fili, cuma satu hal yang ketinggalan. Perasaaan. Perasaan itu nggak ada, dan ternyata nggak bisa dibuat ada. Fili udah belajar soal satu hal ini. Dan saya belajar bahwa pasangan sempurna bukanlah pria yang ideal, tapi pria yang kita cintai. Perhatikan aja orang tua kita. Orang tua saya jelas tidak mendapat pasangan yang ideal, tapi mereka mendapat pasangan yang tepat. Ternyata itu yang penting. Sukur kalo kapan-kapan saya ketemu sama orang seperti itu.

Leave a Reply